Minggu, 19 Juli 2015

Menjadi Sensitif Agar Disensitifkan

                Perbeaan, belakangan hal yang dahulu menjadi penyatu antar pribadi yang satu dengan pribadi lainnya malah berubah menjadi sebuah pedang bermata dua yang siap membunuh kepribadian remaja dalam situasi apapun.
                Sedikit cerita, saya sendiri adalah seorang yang tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar saya. Jangankan lingkungan sekitar, diri saya sendiri bahkan seringkali saya abaikan. Saya tumbuh dengan kepribadian yang acuh, keras kepala dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar maupun diri sendiri. Namun saya sadar betul bahwa setiap sikap saya menghasilkan buah yang berbeda-beda. Sikap acuh saya membuat diri saya menjadi terlihat terawat, sikap keras kepala saya membuat saya tidak jarang berselisih dengan orang di sekitar saya dan yang paling parah, ketidakpekaan saya menjadikan orang-orang dapat menghina saya dengan sangat mudah karena mereka semua yakin bahwa saya tidak akan marah sedikit pun. Mereka berfikiran bahwa ketidakpekaan saya itu merupakan wujud dari kesabaran saya. Awalnya hal ini menjadi suatu hal yang wajar bagi saya. Namun, lama-kelamaan sikap saya yang kurang peka dan tidak mau ambil pusing terhadap pendapat orang lain membuat orang-orang di sekitar saya dapat dengan seenaknya menghina-hina saya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap rendah terhadap saya.
                 Peduli? Tidak! Tapi itu diawalnya. Belakangan saya merasa bahwa saya harus membela diri saya sendiri dan sedikit bersikap tegas terhadap orang-orang yang tidak menghargai ketidakpekaan saya. Namun yang terjadi benar-benar jauh dari harapan saya. Setiap kali saya mencoba marah jika diejek atau sekedar dibelakangkan, orang-orang sekitar saya malah menggangap bahwa saya sedang bercanda dan mereka tidak memperdulikan amarah saya. Hal ini benar-benar membuat saya mulai membenci lingkungan sekitar saya. Saya benci ketika harus berhubungan dengan kelompok-kelompok social yang ada di sekitar saya. Saya mulai membenci keadaan di mana saya harus membuat suatu relasi dengan orang-orang di sekitar saya. Dan dari semua itu yang paling saya benci adalah ketika saya harus diperhadapkan pada pemandangan di mana saya berada di antara beberapa kelompok sosial sedang berbincang, bercanda dan menguras energi mereka untuk membicarakan hal-hal yang menurut saya tidak penting.
                Perlahan saya mulai menjadi berbeda dengan yang lain. Menurut saya, sendiri lebih baik dari pada harus berkelompok atau berteman. Saya mulai menjauh dari lingkungan sekitar saya, hingga saya menjadi seorang penyendiri yang memiliki pandangan negative tentang bersosialisasi.
                Awalnya, saya pikir menjadi penyendiri akan menjauhkan saya dari orang-orang yang suka mengejek atau menggangap rendah terhadap saya, tapi ternyata semua itu salah. Padahal saya berharap dengan saya menahan diri untuk berkomunikasi dengan orang lain, hal itu dapat menjauhkan saya dari mereka. Namun lagi-lagi semuanya tidak sesuai dengan harapan saya, mereka tetap saya melakukan hal yang sama terhadap saya. Mereka tetap saja melakukan hal-hal yang menyakiti hati saya, tapi menyenangkan bagi mereka. Diejek dengan segala kekurangan saya perlahan menjadi makanan rutin baagi saya. Mereka? Mereka tidak pernah perduli tentang apa yang saya pikirkan. Walaupun tidak selamanya yang keluar dari mulut mereka adalah sebuah ejekan, namun tetap saja pujian yang didasari rasa iri benar-benar membuat saya merasa sakit.
                Saya akui banyak sekali pembeda antara saya dengan orang-orang di sekitar saya yang menjadi sebuah bumerang bagi saya sendiri. Tidak hanya dari hal buruk dalam diri saya. Terkadang hal baik dalam diri saya menjadi sebuah pembeda  yang ampuh membuat mereka menjadi sirik dan tidak berhenti mencari cara untuk memojokkan saya.
                Tidak jarang saya berfikir tentang orang-orang yang iri pada saya, tapi tidak pernah mencoba untuk menjadi lebih baik dari saya dan hal itu benar-benar mengganggu, tidak berguna dan merupakan salah besar. Ada saatnya orang menjadi nomor satu dalam suatu bidang dimana yang lain hanya bisa menjadi nomor kesekian, bahkan menjadi yang terbelakang. Dan ada saatnya juga yang terbelakang menjadi nomor satu pada bidang mereka. Tidak ada orang yang bisa menguasai segala bidang, namun jika ada mereka tidak akan menguasai semua bidang tersebut secara sempurna.
                Pada akhirnya, perbedaan kemampuan tersebut secara tidak langsung akan menjadi penyatu. Namun terkadang kita kurang sensitive dan menganggap potensi yang mampu menyatukan perbedaan tersebut hanyalah hal yang tidak penting.  Seringkali kita menyepelehkan perasaan orang lain, menyepelehkan potensi besar yang ada dalam diri seseorang. Bahkan tidak jarang, kita menganggap bahwa rasa sakit yang dirasakan orang lain sebagai sebab dari perkataan kita sebagai hal yang wajar terjadi di kalangan para remaja dewasa ini. Mungkin saja orang-orang sekitar kita tidak mengeluarkaan reaksi yang begitu berarti saat diejek atau dianggap remeh. Tapi siapa yang tahu apa yang ada dalam hatinya?
                Perbedaan itu bukanlah suatu hal yang buruk asal kita menyeimbanginya dengan rasa sensitif yang tinggi. Sensitif bisa saja menjadi suatu senjata yang ampuh untuk melebur perbedaan. Namun hal ini hanya bisa terjadi asal kita mau mengisinya dengan amunisi yang bukan lain adalah kerendarahan hati. Tidak hanya sampai situ, kita juga harus mau membiarkan kerendahan hati kita menghancurkan segala kesombongan kita, sehingga perbedaan dapat dengan mudah melebur dan saling melengkapi satu sama lain.

                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar