Perbeaan,
belakangan hal yang dahulu menjadi penyatu antar pribadi yang satu dengan
pribadi lainnya malah berubah menjadi sebuah pedang bermata dua yang siap
membunuh kepribadian remaja dalam situasi apapun.
Sedikit
cerita, saya sendiri adalah seorang yang tidak terlalu peduli dengan lingkungan
sekitar saya. Jangankan lingkungan sekitar, diri saya sendiri bahkan seringkali
saya abaikan. Saya tumbuh dengan kepribadian yang acuh, keras kepala dan kurang
peka terhadap lingkungan sekitar maupun diri sendiri. Namun saya sadar betul
bahwa setiap sikap saya menghasilkan buah yang berbeda-beda. Sikap acuh saya
membuat diri saya menjadi terlihat terawat, sikap keras kepala saya membuat
saya tidak jarang berselisih dengan orang di sekitar saya dan yang paling
parah, ketidakpekaan saya menjadikan orang-orang dapat menghina saya dengan
sangat mudah karena mereka semua yakin bahwa saya tidak akan marah sedikit pun.
Mereka berfikiran bahwa ketidakpekaan saya itu merupakan wujud dari kesabaran
saya. Awalnya hal ini menjadi suatu hal yang wajar bagi saya. Namun,
lama-kelamaan sikap saya yang kurang peka dan tidak mau ambil pusing terhadap pendapat
orang lain membuat orang-orang di sekitar saya dapat dengan seenaknya
menghina-hina saya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap rendah
terhadap saya.
Peduli? Tidak! Tapi itu diawalnya. Belakangan
saya merasa bahwa saya harus membela diri saya sendiri dan sedikit bersikap
tegas terhadap orang-orang yang tidak menghargai ketidakpekaan saya. Namun yang
terjadi benar-benar jauh dari harapan saya. Setiap kali saya mencoba marah jika
diejek atau sekedar dibelakangkan, orang-orang sekitar saya malah menggangap
bahwa saya sedang bercanda dan mereka tidak memperdulikan amarah saya. Hal ini
benar-benar membuat saya mulai membenci lingkungan sekitar saya. Saya benci
ketika harus berhubungan dengan kelompok-kelompok social yang ada di sekitar
saya. Saya mulai membenci keadaan di mana saya harus membuat suatu relasi
dengan orang-orang di sekitar saya. Dan dari semua itu yang paling saya benci
adalah ketika saya harus diperhadapkan pada pemandangan di mana saya berada di
antara beberapa kelompok sosial sedang berbincang, bercanda dan menguras energi
mereka untuk membicarakan hal-hal yang menurut saya tidak penting.
Perlahan
saya mulai menjadi berbeda dengan yang lain. Menurut saya, sendiri lebih baik
dari pada harus berkelompok atau berteman. Saya mulai menjauh dari lingkungan
sekitar saya, hingga saya menjadi seorang penyendiri yang memiliki pandangan negative
tentang bersosialisasi.
Awalnya,
saya pikir menjadi penyendiri akan menjauhkan saya dari orang-orang yang suka
mengejek atau menggangap rendah terhadap saya, tapi ternyata semua itu salah. Padahal
saya berharap dengan saya menahan diri untuk berkomunikasi dengan orang lain,
hal itu dapat menjauhkan saya dari mereka. Namun lagi-lagi semuanya tidak
sesuai dengan harapan saya, mereka tetap saya melakukan hal yang sama terhadap
saya. Mereka tetap saja melakukan hal-hal yang menyakiti hati saya, tapi menyenangkan
bagi mereka. Diejek dengan segala kekurangan saya perlahan menjadi makanan
rutin baagi saya. Mereka? Mereka tidak pernah perduli tentang apa yang saya
pikirkan. Walaupun tidak selamanya yang keluar dari mulut mereka adalah sebuah
ejekan, namun tetap saja pujian yang didasari rasa iri benar-benar membuat saya
merasa sakit.
Saya
akui banyak sekali pembeda antara saya dengan orang-orang di sekitar saya yang
menjadi sebuah bumerang bagi saya sendiri. Tidak hanya dari hal buruk dalam diri
saya. Terkadang hal baik dalam diri saya menjadi sebuah pembeda yang ampuh membuat mereka menjadi sirik dan
tidak berhenti mencari cara untuk memojokkan saya.
Tidak jarang
saya berfikir tentang orang-orang yang iri pada saya, tapi tidak pernah mencoba
untuk menjadi lebih baik dari saya dan hal itu benar-benar mengganggu, tidak
berguna dan merupakan salah besar. Ada saatnya orang menjadi nomor satu dalam
suatu bidang dimana yang lain hanya bisa menjadi nomor kesekian, bahkan menjadi
yang terbelakang. Dan ada saatnya juga yang terbelakang menjadi nomor satu pada
bidang mereka. Tidak ada orang yang bisa menguasai segala bidang, namun jika ada
mereka tidak akan menguasai semua bidang tersebut secara sempurna.
Pada akhirnya,
perbedaan kemampuan tersebut secara tidak langsung akan menjadi penyatu. Namun terkadang
kita kurang sensitive dan menganggap potensi yang mampu menyatukan perbedaan
tersebut hanyalah hal yang tidak penting.
Seringkali kita menyepelehkan perasaan orang lain, menyepelehkan potensi
besar yang ada dalam diri seseorang. Bahkan tidak jarang, kita menganggap bahwa
rasa sakit yang dirasakan orang lain sebagai sebab dari perkataan kita sebagai
hal yang wajar terjadi di kalangan para remaja dewasa ini. Mungkin saja
orang-orang sekitar kita tidak mengeluarkaan reaksi yang begitu berarti saat
diejek atau dianggap remeh. Tapi siapa yang tahu apa yang ada dalam hatinya?
Perbedaan
itu bukanlah suatu hal yang buruk asal kita menyeimbanginya dengan rasa sensitif
yang tinggi. Sensitif bisa saja menjadi suatu senjata yang ampuh untuk melebur
perbedaan. Namun hal ini hanya bisa terjadi asal kita mau mengisinya dengan
amunisi yang bukan lain adalah kerendarahan hati. Tidak hanya sampai situ, kita
juga harus mau membiarkan kerendahan hati kita menghancurkan segala kesombongan
kita, sehingga perbedaan dapat dengan mudah melebur dan saling melengkapi satu
sama lain.